SENGKANG – Gemuruh lantunan ayat suci Al-Qur’an menyelimuti sudut-sudut Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Darunnajah Sengkang pada akhir pekan ini. Sebuah pencapaian monumental baru saja terukir melalui perjuangan Ainun Wadi’ah, santriwati kelas IX yang berhasil menuntaskan simaan hafalan 15 juz dalam sekali duduk.
Peristiwa yang berlangsung pada Jumat hingga Sabtu (26–27 Desember 2025) ini bukan sekadar evaluasi rutin. Jika biasanya simaan dilakukan dalam kategori 5 atau 10 juz, kali ini Ainun melampaui batasan tersebut, menjadikannya santriwati pertama yang mencatatkan sejarah simaan 15 juz sekali duduk di pondok ini.
Perjuangan 9 Jam Menuju “Mumtaz”
Selama kurang lebih 9 jam penuh konsentrasi, Ainun mendaras kalamullah ayat demi ayat. Ujian ketahanan mental dan spiritual ini membuahkan hasil yang manis. Di bawah pengawasan para ustadzah, ia berhasil menyelesaikan setoran hafalannya dengan predikat Mumtaz (Sempurna).
Suasana yang semula khidmat berubah menjadi haru biru saat memasuki 5 juz terakhir. Kehadiran orang tua Ainun di tengah majelis menjadi suntikan energi yang luar biasa. Air mata tak terbendung menyertai setiap lantunan ayat yang keluar dari lisan sang putri, menciptakan atmosfer kekhusyukan yang menggetarkan jiwa siapa pun yang hadir.
“Perasaan saya campur aduk; ada rasa bangga, syukur yang mendalam, dan haru melihat perjuangan putri kami menjaga amanah Kalamullah ini,” ungkap ayahanda Ainun dengan suara bergetar saat memberikan sepatah kata di akhir sesi.
Pemantik Semangat bagi Generasi Hamalatul Qur’an
Capaian Ainun Wadi’ah bukan sekadar prestasi pribadi, melainkan sebuah “Loncatan Iman” bagi seluruh santri di PPTQ Darunnajah Sengkang. Keberhasilan ini membuktikan bahwa dedikasi dan kecintaan pada Al-Qur’an mampu menembus batas kemampuan diri.
Menyusul jejak Ainun, tradisi baru ini akan segera dilanjutkan. Dalam waktu dekat, tiga santriwati lainnya—Zarah Syahwa Syaputri, Rayhana Fitria Ramadhani, dan Aprilia Rahma Arisa—telah bersiap untuk mengikuti parade simaan kategori 15 juz.
Kegiatan yang ditutup dengan sesi dokumentasi penuh kehangatan ini diharapkan menjadi wasilah keberkahan bagi pesantren. Semoga hafalan yang terjaga menjadi cahaya bagi kehidupan mereka di dunia dan menjadi syafaat di akhirat kelak.



