angkah Pertama di Tanah yang Asing
Merintis dakwah di tanah yang telah lama subur dengan adat, tradisi, dan karismatik ulama lokal bukan perkara mudah. Kota Sengkang, Kabupaten Wajo, yang dikenal sebagai kota santri dan tempat lahirnya banyak hafizh Qur’an serta ulama-ulama besar, adalah ladang dakwah yang telah lama ditempati oleh para da’i yang memiliki pengaruh kuat di masyarakat. Di tengah kondisi itu, hadir seorang dai muda alumni pelatihan satu tahun Tadribud Du’at, berbekal semangat dan sedikit pengalaman. Langkah awal dakwahnya terasa begitu berat.
Di hadapannya terbentang tantangan budaya, kebiasaan masyarakat, dan ekspektasi yang tinggi terhadap sosok da’i. Masyarakat sudah akrab dengan gaya berpakaian, pola dakwah, dan pembawaan khas ulama tradisional. Maka kehadiran seorang da’i muda dengan pemahaman manhaj yang berbeda, penampilan yang belum lazim di mata masyarakat, serta nama lembaga yang belum dikenal, sempat menimbulkan jarak dan penolakan.
Namun semangat dakwah itu tak padam. Pelan tapi pasti, seorang dai muda itu mulai mengenal lingkungan, menjalin silaturahim, dan berdakwah dari masjid ke masjid. Saat itu belum ada markaz resmi, belum ada lembaga pendidikan, dan belum ada struktur organisasi yang kuat. Dakwah dilakukan secara perlahan, dari mushalla kecil, dari kelompok kecil pengajian ibu-ibu, atau dari rumah ke rumah.
Pendidikan: Jalan Tengah Menembus Batas
Seiring waktu, kesadaran mulai tumbuh. Bahwa membangun lembaga pendidikan adalah strategi paling efektif untuk memperkuat posisi dakwah. Pendidikan akan menjadi wadah interaksi dengan masyarakat tanpa terlihat eksklusif. Pendidikan akan mendekatkan lembaga kepada anak-anak, orang tua, dan warga sekitar secara perlahan dan alami.
Dengan mendirikan sekolah, kita bisa mendidik anak-anak sejak dini, menyebarkan nilai-nilai Islam, serta mencetak kader-kader masa depan. Bukan hanya itu, melalui pendidikan pula branding seorang dai akan lebih diterima di tengah masyarakat. Dalam tradisi lokal, seseorang baru dianggap ‘kyai’ atau tokoh keagamaan jika sudah memiliki pesantren atau lembaga pendidikan. Maka berdirinya sekolah akan berdampak langsung terhadap status sosial lembaga dan personal dai itu sendiri.
Sebidang Tanah dan Sebuah Doa
Tahun 2009 menjadi titik balik penting. H. Timma, salah seorang jamaah, membawa kabar bahwa H. Dahlan Ware – seorang saudagar tanah yang juga tokoh Muhammadiyah – berniat mewakafkan tanahnya kepada Wahdah Islamiyah. Tanah seluas lebih dari 1 hektar itu berada di Jl. Beruang, hanya sepelemparan batu dari kantor Bupati Wajo.
Dengan penuh harap, pengurus DPC Andi Anugerah, selaku ketua saat itu, bersilaturahim ke rumah beliau. Bersama Ust. Bayu Taufiq Pasuma dari DPP, dilakukan pembicaraan. Dari tawaran awal 1 hektar, akhirnya diikhlaskan dua bidang tanah strategis: ukuran 42×24 m dan 57×24 m. Di atas tanah inilah cita-cita besar mulai tumbuh.
Tak menunggu lama, DPD mengajukan proposal ke DPP Wahdah Islamiyah untuk pembangunan markaz. Dengan izin Allah, tahun 2010 berdirilah Masjid, dua ruang kelas, satu kantor, dan satu rumah dai. Semua selesai dengan cepat dan diberi nama Markaz Imam Bukhari DPD Wahdah Islamiyah Wajo.
Seruan DPP: Saat Amanah Itu Datang
Setelah markaz berdiri, kegiatan mulai berjalan: salat lima waktu, kajian, tarbiyah, dan tahsin. Namun belum terlintas di benak pengurus untuk membuka lembaga pendidikan. Hingga suatu ketika, pertengahan tahun 2010, DPP menginstruksikan agar markaz dimanfaatkan untuk membuka sekolah Wahdah Islamiyah.
Pengurus saat itu masih dalam format DPC, personil hanya hitungan jari, pengalaman pendidikan belum ada. Ketika instruksi datang, musyawarah dilaksanakan. Hasilnya: kami menolak. Dengan berat hati, kami sampaikan belum siap. Banyak alasan: SDM kurang, belum ada guru, belum ada dana, belum ada pengalaman.
Namun, dalam keheningan musyawarah itu, sepasang suami istri berdiri. Dengan mata yang mantap mereka berkata, “Bismillah, kami siap mulai. Meski berat, Insya Allah ada jalan.” Maka dimulailah langkah besar itu.
Pendirian Yayasan: Langkah Berat dengan Harapan
Mendirikan yayasan tak semudah membalik telapak tangan. Dibutuhkan biaya notaris Rp4 juta dan saldo rekening Rp15 juta. Padahal, lembaga tak punya simpanan sama sekali. Tapi mereka tak menyerah. Pinjaman demi pinjaman dilakukan.
Ilham Rafi meminjamkan dana untuk biaya notaris. H. Suparman dipinjami uang untuk membuka rekening awal yayasan. Maka pada tanggal 31 November 2011, lahirlah Yayasan Pendidikan Wahdah Islamiyah Wajo dengan akta notaris No. 27.
Susunan pengurus awal adalah:
- Pendiri: Ayem Supriono
- Ketua: Ayem Supriono
- Sekretaris: Warsito
- Bendahara: Sulasmi Wakhida
- Pembina: Ilham Rafi
- Pengawas: H. Suparman dan H. Timma
Sebagian besar kader belum siap bergabung sebagai pengurus. Maka pengawas diambil dari kalangan simpatisan. Inilah langkah awal lembaga pendidikan Wahdah Islamiyah Wajo berdiri: dengan penuh keterbatasan, namun tidak kekurangan semangat.
KB/TK Islam Terpadu Yaa Bunayya: Titik Awal yang Penuh Haru
Tahun ajaran 2012/2013 menjadi awal sejarah. Dibuka unit pendidikan pertama: Play Group dan TK Islam Terpadu Yaa Bunayya. Lokasi berada tepat di samping markaz masjid. SDM masih sangat terbatas. Gaji guru hanya Rp300 ribu. Bahkan salah satu guru yang diterima hanya lulusan paket C. Tapi semua dijalani dengan semangat dan harapan.
Guru-guru pertama adalah:
- Ustadzah Sulasmi Wakhida (Kepala Sekolah)
- Ibu Nola Rathi Dewi
- Hj. Ekawati Sultan
- Ibu Dadi
Pendaftaran dibuka. Biaya sangat murah: uang pembangunan Rp500 ribu, infak bulanan Rp30 ribu. Namun respon dari kader minim. Bahkan ada yang lebih memilih menyekolahkan anaknya ke lembaga lain yang lebih mahal. Tapi kami tetap melangkah.
Sosialisasi ke masyarakat umum dan simpatisan dilakukan. Alhamdulillah, di tahun pertama 13 siswa mendaftar: 5 anak Play Group dan 8 anak TK. Mereka adalah generasi pertama. Di balik seragam kecil mereka, tertanam harapan besar bagi masa depan lembaga ini.
Menyambung Langkah: SDIT Yaa Bunayya
Setahun kemudian, 2013/2014, dibuka unit SD Islam Terpadu Yaa Bunayya. Pengajar pertamanya adalah Pak Ahmad Dahlan. Dengan pengalaman mengelola TPA, ia diberi amanah menjadi guru pertama. Ruang kelas dibuat seadanya. Buku, alat peraga, dan fasilitas dibeli dengan hasil donasi.
Untuk operasional, dilakukan fundraising. Para ibu dirosa ikut menyumbang. Amplop donatur disebar. Orang tua diajak ikut program ngaji. Sekolah ini menjadi rumah kedua, bukan hanya bagi anak-anak, tetapi juga orang tua mereka. Dari sinilah mulai lahir kader-kader baru.
Tanpa Rencana Sempurna, Tapi Dengan Ketulusan
Lembaga ini tidak lahir dari studi kelayakan, bukan pula dari proposal yang lengkap. Tapi ia lahir dari ketulusan, keberanian, dan cinta kepada dakwah. Yang ada hanya semangat. Tapi karena itulah Allah beri jalan.
Kalau saja kami menunggu semua siap, mungkin hingga kini lembaga ini belum berdiri. Tapi kami memilih memulai. Karena dengan memulai, Allah akan memperlihatkan jalannya. Dengan memulai, kami belajar. Dan dari situ kami tumbuh.
Inilah awal cerita panjang lembaga pendidikan Wahdah Islamiyah Wajo. Lembaga yang lahir dari titik nol. Tapi dari titik nol itu, tumbuh harapan besar. Dengan pendidikan akan melahirkan kader dan transfer. Semoga setiap langkah kecil ini dicatat sebagai amal jariyah yang tak terputus hingga akhir zaman.